Alat Transportasi Masal Dapat Menghilangkan Hambatan Perdagangan

Bank Dunia mengatakan kebijakan reformasi yang diadopsi oleh Indonesia penting untuk mendorong investasi dan ekspor sehingga negara itu akan lebih kompetitif secara global. Peningkatan ekspor dan investasi akan memperkuat neraca dan ketahanan neraca berjalan negara ini, kepala ekonom Bank Dunia di Indonesia Frederico Gil Sander mengatakan dalam laporan tiga bulanan bank terbaru yang dikeluarkan di sini pada hari Kamis. Gil Sander mengatakan upaya telah dilakukan olehnya.

Alat Transportasi Masal Dapat Menghilangkan Hambatan Perdagangan. pemerintah melalui ratifikasi sejumlah perjanjian perdagangan bebas dan relaksasi Daftar Negatif Investasi. Kondisi ini berguna untuk memperkuat daya saing Indonesia dan menciptakan lapangan kerja baru yang akan menghasilkan lebih banyak orang di kelas menengah, katanya. Dia mengatakan ketidakpastian ekonomi global sebagai akibat dari perang perdagangan harus menjadi peluang karena banyak investor asing mulai memindahkan pabrik mereka ke negara-negara berkembang di Asia Tenggara.

Momentum pertumbuhan investasi diperkirakan akan berlanjut hingga 2019 untuk mengikuti pembangunan infrastruktur. Indonesia, bagaimanapun, masih tertinggal di belakang Thailand dan Vietnam, yang mulai menghilangkan hambatan perdagangan, katanya. Kereta api, sebagai alat transportasi massal, tidak dapat disangkal penting di era saat ini, dan permintaan ini berbanding lurus dengan pertumbuhan ekonomi yang cepat di kota-kota besar dan penyangga di Indonesia.

Pemerintah meyakini kereta api adalah solusi untuk masalah kemacetan transportasi yang timbul akibat dampak lain dari pertumbuhan ekonomi. Ini terutama berlaku di kota-kota besar yang merupakan pusat industri dan bisnis.

Kereta dipilih, karena moda transportasi massal yang aman, nyaman, dan terjangkau. Mereka juga merupakan salah satu moda transportasi massal yang digunakan di kota-kota besar di dunia untuk mengatasi kemacetan, yang dihasilkan dari mobilisasi manusia sebagai dampak dari pertumbuhan ekonomi. Dengan moda transportasi kereta api di kota-kota besar di Indonesia yang kemudian diintegrasikan dengan daerah lain, beban kepadatan penduduk di daerah perkotaan akan berkurang. Oleh karena itu, ini juga dapat menurunkan potensi kemacetan.

Pemilihan kereta api sebagai moda transportasi massal bukan tanpa alasan. Selain efisien dan murah, kereta bukanlah alat transportasi baru bagi masyarakat Indonesia. Selain itu, Indonesia telah menguasai teknologi kereta api.

Efek lain yang timbul dari tingginya permintaan akan moda transportasi kereta api dalam mengurangi potensi kemacetan adalah mendorong industri kereta api domestik, di mana PT Kereta Api (Persero), atau yang biasa dikenal dengan PT INKA (Persero), hadir. Sebagai satu-satunya perusahaan pembuat kereta api di Indonesia dan juga ASEAN, PT INKA siap untuk menjawab tantangan kebutuhan transportasi.

#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@

Sejauh ini, 100 persen dari kebutuhan fasilitas kereta api domestik telah diproduksi di PT INKA, baik kereta penumpang maupun barang. INKA telah menyiapkan pesanan kereta api dari Kementerian Perhubungan, PT Kereta Api Indonesia (Persero), pemerintah daerah, dan juga sektor swasta. Di antaranya adalah kereta resmi, kereta inspeksi, Track Motor Cars (TMC), kereta api diesel, lokomotif, kereta penumpang, kereta barang, dan yang terbaru adalah kereta api ringan atau LRT.

Saat ini, pada tahun 2018, untuk pesanan domestik, INKA sedang mengerjakan renovasi 438 unit kereta dari PT KAI. Bandara Soeta, proyek Minangkabau, pesanan pribadi, LRT Palembang, dan LRT Jabodebek masih dalam proses, Manajer Senior Humas, Sekretariat, dan Protokol PT INKA (Persero) Hartono menyatakan. Untuk pasar ekspor, INKA sedang mengerjakan pesanan dari Bangladesh, Sri Lanka, Thailand, dan Filipina, dengan nilai kontrak proyek triliunan rupiah.

Dengan banyaknya pesanan yang dilakukan PT INKA, secara otomatis meningkatkan pendapatan yang diperoleh oleh perusahaan milik negara. PT INKA (Persero) pada tahun 2017 berhasil menghasilkan pendapatan sebesar Rp2,58 triliun, atau meningkat 37 persen dari tahun sebelumnya. Pertumbuhan penjualan rata-rata selama lima tahun terakhir telah mencapai 22 persen.