JKN Masih Merupakan Magnet Untuk Menarik Investasi

Total kerusakan hutan dan lahan yang terkena dampak penambangan emas ilegal mencapai 7.500 hektar, tambahnya. Kementerian Perindustrian mengatakan berharap untuk melihat investasi baru di industri farmasi dan tekstil bernilai sekitar Rp130 ​​triliun pada 2019. Direktur Jenderal Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka IKTA) Achmad Sigit Dwiwahjono mengatakan bahwa Kementerian akan memulai reorganisasi pada tanggal 1 Januari 2019 dan Direktorat Jenderal IKTA akan berganti nama menjadi Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil (IKFT).

Tahun depan, investor akan cenderung menunggu dan melihat posisi di tengah tahun politik. Namun, investor jangka panjang akan terus berlanjut. Investor jangka menengah mungkin menunggu, kata Sigit di Antara di sini pada hari Jumat. Dia mengatakan investasi di industri kimia kemungkinan akan lebih besar di sektor IKFT karena membutuhkan teknologi tinggi dan modal besar.

Selain itu, pasokan bahan kimia hulu masih didominasi oleh impor yang dibutuhkan Kementerian Perindustrian untuk menarik lebih banyak investasi ke sektor ini, katanya. Sudah ada investor yang tertarik pada industri kimia hulu dari Korea Selatan, tetapi minatnya masih dalam tahap negosiasi karena kita lemah di sektor kimia hulu, katanya.

Di sektor farmasi, Sigit menyatakan optimisme bahwa industri farmasi akan tumbuh 7-10 persen pada 2019 karena program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) masih merupakan magnet untuk menarik lebih banyak investasi.

Program JKN mendorong permintaan di industri farmasi bahwa saya optimis sektor ini akan terus tumbuh tahun depan, kata Sigit. Investasi di industri farmasi akan didominasi 55 persen oleh investor asing dengan investor lokal mencapai 45 persen, katanya.

$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$

Sigit mengatakan, investor Korea Selatan juga tertarik pada industri tekstil, yang juga merupakan industri utama di negara tersebut. Dia mengatakan dia berharap target dapat dicapai tahun depan agar IKFT dapat berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan industri nasional. Lokasi pabrik Masela liquefied natural gas (LNG) akan berada di sub-distrik Tanimbar Selatan, kata Kepala Distrik Maluku Tenggara Barat Petrus Fatlolon.

Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menentukan bahwa proyek tersebut akan dibangun di pantai dan bukan di lepas pantai dan lokasi akan menjadi kecamatan Tanimbar Selatan, kata Petrus di Saumlaki, Jumat.

Ia mengatakan telah menerima surat dari Satuan Tugas Khusus untuk Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) yang meminta pemerintah kabupaten menyiapkan 600 hektar lahan di Tanimbar Selatan.

Saat ini saya belum bisa mengumumkan lokasi yang tepat untuk mencegah pemilik tanah mengambil keuntungan dengan menaikkan harga tanah mereka, katanya.

Dia mengatakan pemerintah juga diminta untuk mempersiapkan pekerja terlatih untuk dipekerjakan di LNG dengan mengirimkan lulusan sekolah menengah atas untuk melanjutkan studi di akademi minyak dan gas Cepu di Jawa.

Dia mengatakan sejumlah lulusan sekolah menengah setempat sudah dikirim ke Cepu sejak 2016.

Saat ini ada sekitar 60 siswa dari Tanimbar belajar di akademi. Kami menyiapkan sumber daya manusia yang terlatih untuk menjadi lebih kompetitif sehingga kami tidak hanya menjadi penonton dalam pengembangan sumber daya kami, katanya.